Hambatan Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Multikultural Modern
Masyarakat Indonesia memiliki
berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras, bahasa, adat istiadat dan
sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya. Budaya adalah
suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan
sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan
diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok.
Komunikasi diperlukan untuk mengenal
budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang
dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi
dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku
komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar
budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa
latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang
dianut oleh kelompoknya.
Berkomunikasi merupakan kebutuhan
yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi
tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia
tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial
yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan
sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok
besar maupun kelompok kecil.[1]
Terdapat beberapa hambatan dalam komunikasi lintas budaya. Hambatan
dapat diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami."
(Badudu Zain, 1994:489) Begitu juga dalam komunikasi antar budaya.
Budaya disini mengacu pada pola prilaku, kepercayaan, dan adat
istiadat, dengan adanya perbadaan budaya tersebut, tentunya akan memeperngaruhi
persepsi, cara berpikir, juga bahasa yang digunakan.
Secara garis besar memang hambatan dalam komunikasi antar budaya
itu seperti salah proses satu contohnya yaitu adanya noise saat berkomunikasi
karena perbedaan bahasa, namun nyatanya ada hal-hal lain yang juga bisa
menghambat proses komunikasi antar budaya ini. Terutama hambatan ini bisa muncul saat kita berperilaku dan
bersikap abai, berikut ini merupakan beberapa hambatan yang antar budaya :
a.
Racilialism
(Rasilialisme)
Jika
kita mengabaikan perilaku ini maka kita juga mengabaikan adanya perbedaan
antara kita dan kelompok yang secara cultural berbeda.
b.
Stereotyping
(Stereotype)
Bila
kita mengabaikan perbedaan ini, kita akan terjebak dalam sebuah asumsi bahwa
semua orang yang ada di dalam satu kelompok itu sama. Padahal dalam setiap
kultur terdapat banyak subkultur yang bisa berbeda satu sama lain.
c.
Perception
(Persepsi)
Persepsi
sangat mempengaruhi sebuah makna (arti) dari suatu pesan. Pada komunikasi antar
budaya dalam suatu pesan itu pasti akan membentuk sebuah makna yang
berbeda-beda dari yang menerimanya.
d.
Cultural
Norms and Value (Norma dan
Nilai Kebudayaan)
Nilai
dapat bersifat eksplisit (dinyatakan secara terbuka dalam penilaian nilai) atau
secara implisit (disimpulkan dari perilaku nonverbal), dan dapat dipegang atau
dilihat secara individual sebagai bagian dari pola atau sistem budaya.
e.
Ethnocentrism (Etnosentrisme)
Akibat
dari etnosentrisme ini kita jadi menilai perbedaan secara negatif, dan hal
inilah yang membuat adanya hambatan dalam proses komunikasi antar budaya.
f.
Culture
Shock (Kejutan Budaya)
Sebagian
dari kejutan ini timbul karena perasaan terasing, menonjol, dan berbeda dari
yang lain. Bila kita mengenal adat kebiasaan masyarakat yang baru, kita tidak
dapat berkomunikasi secara efektif.
1.
Dakwah Multikultural
Dakwah
multicultural adalah dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan
Islam dalam konteks keragaman masyarakat, dengan mencari titik temu tentang
berbagai hal yang mungkin disepakati dan memaklumi bagian-bagian lain yang
tidak mudah untuk disepakati yaitu dakwah yang dilakukan dalam konteks masyarakat
yang beragam budayanya untuk mencari titik temu dan toleransi. Mengingat bahwa
pada dasarnya dakwah merupakan kegiatan komunikasi. Maka hambatan dan tantangan
dakwah multikultural juga tidak terlalu berbeda jauh dengan hambatan dan
tantangan pada komunikasi kultural. Berikut ini merupakan hambatan dakwah multicultural,
diantaranya:
a.
Etnosentris
Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golongan,
sehingga apriori (ber praanggapan) menolak pendapat orang lain di luar kelompok
atau jamaahnya. (biasanya disertai dengan meremehkan masyarakat dan kebudayaan
lain).
b.
Indriskriminasi
Tidak mampu mengidentifikasi perbedaan atau keunikan.
Indiskriminasi merupakan pengingkaran kekhasan orang lain.
c.
Prasangka
(Prejudice)
Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila
seseorang atau sekelompok orang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang
atau sekelompok orang lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi
yang kurang baik. Persepsi yang kurang baik inilah. yang akhirnya menjadi
prasangka yang menetap.
d.
Stereotip
(Stereotype)
Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan
gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang
atau golongan lain yang bercorak negatif (Gerungan, 1983: 169).
· Stereotip terbentuk meskipun seseorang belum bergaul dengan yang
diprasangkainya.
· Stereotip terbentuk berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang
lengkap dan subjektif
e.
Perbedaan
Kepentingan
Kepentingan akan membuat orang selektif dalam menanggapi dan
menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan stimulus atau pesan yang ada
hubungannya dengan kepentingannya.
f.
Motivasi
Motif merupakan semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang membuat manusia berbuat sesuatu (Gerungan, 1983: 142) Seseorang akan mengabaikan pesan komunikasi yang tak sesuai dengan motivasinya.
g.
Faktor
Semantik
Hambatan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa,
baik pada komunikator maupun komunikan.
h.
Kesalahan
Interpretasi Bahasa Nonverbal
Orang-orang dari budaya yang berbeda memiliki realitas sensori
(indrawi) yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan hanya
pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka (sesuai dengan budaya tempat mereka
berada). Contoh masyarakat Batak menggunakan bendera merah sebagai tanda ada
orang meninggal, sedangkan masyarakat Jawa menggunakan bendera warna putih.
i.
Perbedaan
Budaya dan Norma Sosial
Perbedaan budaya sekaligus juga menimbulkan perbedaan norma sosial
yang berlaku pada masing-masing etnik masyarakat. Karena budaya dan norma
sosial itu dikenal, diakui, dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan
sehari-hari, maka pelanggaran terhadap keduanya tentu akan mendapatkan sanksi,
yang bentuknya berbeda pada setiap masyarakat serta berbeda pula tingkatannya.

Komentar
Posting Komentar