Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah


Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. Bahasa verbal dan non verbal, memiliki sifat yang holistic (masing-masing tidak dapat dipisahkan). Dalam banyak tindakan komunikasi, bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terimakasih (bahasa verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum (bahasa non verbal), seseorang setuju dengan pesan yang disampaikan orang lain dengan anggukan kepala (bahasa non verbal). Dua komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa bahasa verbal dan non verbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi.

 ilmu dakwah merupakan  ilmu yang berisi cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut da'i. Sedangkan yang menjadi objek dakwah disebut mad'u.

A. Komunikasi Verbal Lintas budaya

      Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non verbal, Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah penciptaan melalui gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang  bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka dan sentuhan[1].

Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentatifkan berbagai aspek realitas individu kita. Dengan kata lain, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang mewakili kata-kata itu. Misalnya kata kamar, meja atau motor. Realitas apa yang mewakili setiap kata itu?. Begitu banyak ragam kamar, ada kamar mandi, kamar tidut,  kamar hotel dan yang lainnya. Begitu juga meja, ada meja belajar, meja kerja, meja makan dan sebagainya. Kata motor-pun ternyata tidak sederhana, ada vespa, moge, motor trail, ada motor matic dan sebagainya.

Bila kita menyertakan budaya sebagai variabel dalam proses komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.

Agar komunikasi kita berhasil, bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu: untuk mengenal dunia disekitar kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam hidup kita. Melalui fungsi pertama kita dapat mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah yang hidup pada masa lalu seperti Mesir Kuno. Kita juga dapat berbagi pengalaman masa lalu dan masa kini yang kita alami, dan juga pengetahuan yang kita dapatkan dari berbagai media. Fungsi bahasa kedua adalah sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain[2]. Fungsi ini berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita dan untuk mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan. Melaui bahasa kita dapat mengandalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar kita. Kemampuan orang lain dengan orang lain tidak hanya tergantung pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sama dalam kata-kata yang kita sampaikan. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur, saling memahami diantara kita, baik kepercayaan maupun tujuan-tujuan kita. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata-kata secara acak melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah kita sepakati bersama. Akan tetapi kita sebenarnya tidak selamanya dapat memenuhi ketiga fungsi tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara melekat mengandung kendala karena keterbatasan sifatnya. Seperti dikatakan S.I Hayakawa;” kata itu bukan objek”. Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul kesalahpahaman diantara mereka. menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Kemempuan menyampaikan pesan verbal antar budaya.

B. Komunikasi Non-Verbal lintas budaya

Dalam proses non verbal yang relevan dengan komunikasi lintas budya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan ruang.Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Secara sederhana, pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.[3]

Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya – apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Kita dapat mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ini dengan berbagai cara. Jurgen Ruesch mengklasifikasikan isyarat non verbal menjadi tiga bagian. Pertama, bahasa tanda (sign language)-acungan jempol untuk numpang mobil secara gratis; bahasa isyarat tuna rungu; kedua, bahasa tindakan (action language)-semua gerakan tubuh yang tidak digunakan secara eksklusif untuk memberikan sinyal, misalnya, berjalan; dan ketiga, bahasa objek (object language)-pertunjukan benda, pakaian, dan lambang non verbal bersifat publik lainnya seperti ukuran ruangan, bendera, gambar (lukisan), musik (misalnya marching band) dan sebagainya, baik secara sengaja ataupun tidak.[4]

C. Dakwah Dalam Komunikasi Verbal Dan Non Verbal

            Dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang yang mengajak agar melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama   manusia,   saling   menghargai   dan   menghormati,   kompetisi   sehat   dan   nilai-nilai kemanusiaan  lainnya  ternyata  bukan  hanya  monopoli  khotbah  Sang  Pastor  di  gereja-gereja, nasehat-nasehat  mubaligh  di  podium,  para  politisi  dalam  kampanye  pemilu  atau  sikap  biksu dan  pendeta  bijak  pada  keyakinan  dan  ajaran-ajaran  agama  yang  berbeda.  Sikap  saling membela dalam  mempertahankan budaya  dan  tradisi  suatu masyarakat tidak hanya monopoli kaum  primitif  yang  hidup  di  hutan  nan  jauh  dari  keramaian  kota  seperti  suku-suku  di  Papua dan  Kalimantan,  tetapi  hampir  setiap  masyarakat  menyatu  dengan  budayanya  berhak  untuk melestarikannya. Pengakuan  terhadap  keragaman  beragama  misalnya,  tidak  bisa  dilaksanakan  apabila dalam diri seseorang masih ada perasaan curiga dan prasangka buta yang saling menyalahkan bahkan  mencaci  agama  dan  kepercayaan  yang  ada  di  luar  dirinya.  Meskipun  setiap  agama mempunyai landasan doktriner untuk menyebarkan ajarannya, penyebaran tersebut tetap harus dilakukan dalam suasana saling menghormati kepercayaan agama orang lain. Kasus perkasus tragedi  kemanusiaan  atas  nama  agama  sudah  banyak  kita  saksikan  sebagai  bukti  bahwa keragaman  perbedaan  adalah  keniscayaan  yang  harus  diakui  keberadaannya.  Bahkan  suatu proyek  pembangunan  yang  dilaksanakan  pemerintah  sering  berakhir  dengan  benturan  antar aparat dan warga hanya karena proyek pembangunan tersebut menyinggung dan mengganggu kebiasaan dan adat-istiadat dalam kelangsungan hidup masyarakat setempat.[5] Begitu  juga  dengan  dakwah,  tidak  akan  jauh  mengalami  nasib  yang  sama  apabila pelaksanaan  dakwah  tersebut  tidak  memperhatikan  dan  mengindahkan  nilai-nilai  budaya termasuk tradisi  beragama yang dianut  masyarakat. Dakwah tersebut akan  ditolak dan segera ditinggalkan  umat.  Padahal,  selain  untuk  diri  sendiri,  dakwah  dilakukan  untuk  membimbing umat.  Aktivitas  dakwah  pada  era  sekarang  dituntut  melakukan  upaya-upaya  dan  pendekatan-pendekatan  dakwah  yang  lebih  bisa  mengayomi  dan  mempertimbangkan  budaya-budaya masyarakat tertentu yang berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, maka layaknya suatu proses mesti dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih   terencana,   konseptual   dan   terus-menerus (continue) seraya   terus   meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah.[6]

 



[1] Dedy mulyana, ilmu kominikasi suatu pengantar, (Bandung Remaja Rosdakarya), 2003

[2] Menurut Mulyana( 2007)

[5]  Nurcholish Majid, Islam, Doktrin dan Peradaban,(Jakarta: Paramadina, 1992

[6]  Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR=UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Tayangan “Bikin Laper” Trans TV Diakui Berhasil Membuat Mayarakat Desa Tanjungan, Gresik Merasa Lapar Saat Menontonnya