Tantangan Jadi Wartawan, Bayu Putra: WFH, Liputan Sambil Temani Calon Istri Cari Cincin Pernikahan

Bayu Putra asisten redaktur Jawa Pos des metropolitan Jakarta menjelaskan tantangan menjadi wartawan pada workshop jurnalistik yang diselenggarakan oleh program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SunanAmpel (UINSA) Surabaya, yang diadakan pada kamis, 28 Oktober 2021.

Surabaya, Batavia.News - Bayu Putra seorang wartawan yang bertugas di Istana kenegaraan, asisten redaktur Jawapos ini menceritakan tantangan menjadi wartawan pada workshop jurnalistik yang digelar oleh program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Pasalnya ketika ia sedang mencari cincin pernikahan bersama istrinya, tiba-tiba muncul kabar bahwa terjadi reshuffle kabinet di masa pandemi Covid-19. Akhirnya ia memutuskan untuk liputan sambil menemani calon istri mencari cincin pernikahan.

Hal ini merupakan momen yang sangat berarti bagi wartawan Jawa Pos yang baru menggelar resepsi pernikahan.Ini momen yang sangat berarti bagi saya, karna sempat membuat saya kelabakan,” ungkapnya.

Waktu itu saya sedang menemani  perempuan yang sekarang menjadi istri saya, cari cincin karena menjelang lamaran. Tiba-tiba sehari sebelumnya saya sudah curiga. Bahwa besok akan ada reshuffle dan ternyata benar direshuffle. Pada saat itu saya sedang ada di luar, akhirnya istri yang cari-cari cincin sementara saya liputan sambil menemani dia, ucap Bayu Putra.

Tidak banyak orang tahu bahwa menjadi seorang wartawan yang bertugas di Istana kenegaraan tidaklah mudah. Bagaimana tidak, wartawan dituntut untuk selalu siap jika sewaktu-waktu ada acara di istana kenegaraan. Mau tidak mau wartawan harus mengikuti agenda presiden yang mendadak.

Diketahui, Istana adalah muara dari semua isu, semua bidang yang diurusi oleh negara. Mulai dari olahraga, politik, kesejahteraan rakyat, sosial dan ekonomi, Semuanya dilaporkan ke presiden, dibahas dalam rapat-rapat kabinet. Akhirnya para wartawan harus cepat faham tentang semua yang menjadi urusan Negara.

Salah satu tantangan menjadi wartawan yang sering terjadi, beberapa wartawan tumbang karena kesehatan badan yang tidak fit dan pola makan yang tidak teratur. Bayu Putra menghimbau sebagai seorang wartawan harus menjaga kesehatan fisik, dengan melakukan pola makan yang teratur.

Wartawan yang mengisi workshop jurnalistik program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)  UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu juga mengatakan, “Ada beberapa momen yang sangat krusial bagi saya.  Misalnya waktu ikut pesawat kepresidenan hampir tertinggal. Sebagai wartawan kita harus siap menulis naskah dimanapun kita berada, even itu di dalam mobil yang sedang berjalan,”

Terkadang tidak peduli dimanapun wartawan berada, jika sewaktu-waktu ada berita baru mengenai isu yang beredar, seketika itu juga wartawan harus siap liputan, menyiapkan naskah berita yang akan di pubish di media sosial dan berbagai media cetak lainnya.  (Noviyanti Wulan Sari)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR=UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Tayangan “Bikin Laper” Trans TV Diakui Berhasil Membuat Mayarakat Desa Tanjungan, Gresik Merasa Lapar Saat Menontonnya