Fungsi, Tujuan dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

Artikel ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan mengenai fungsi, tujuan dan peranan dakwah dalam komunikasi antarbudaya.

Dalam berdahwah, seorang da’i tentunya memiliki tujuan tertentu dalam menyampaikan dakwahnya. Perbedaan dan keragaman budaya yang ada di negara ini menjadi sebuah tantangan tertentu bagi seorang da’i untuk menyampaikan atau menyebarkan dakwahnya, maka dari itu sebagai seorang da’i diperlukan pengetahuan mengenai komunikasi antarbudaya, agar dapat memahami cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan beragam budaya yang ada.

Pengertian dakwah dalam buku Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. dikatakan bahwasanya definisi dakwah menurut para ahli, yakni Syekh Muhammad al-Khadiir Husain, dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Komunikasi menurut T. May Rudi adalah proses penyampaian informasi-informasi, pesan-pesan, gagasan-gagasan atau pengertian-pengertian dengan menggunakan lambing-lambang yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian dan atau kesepakatan bersama. Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Pengertian komunikasi antarbudaya pada umumnya adalah proses komunikasi yang dilatar belakangi antar budaya. Fungsi dakwah dalam komunikasi antarbudaya  pada umumnya adalah sebagai wadah atau metode dalam menyampaikan dakwah agar mempermudah dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah dan upaya untuk merubah masyarakat agar menjadi lebih baik, agar dakwah dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Tujuan dakwah dalam komunikasi antarbudaya adanya partisipasi dari masyarakat luas terhadap pesan yang disampaikan, sehingga dapat mempengaruhi dan merubah tingkah laku masyarakat menjadi lebih baik. Peranan dakwah dalam komunikasi antarbudaya adalah untuk mendorong masyarakat menjadi lebih baik melalui prinsip amar ma’ruf nahi mungkar dengan menerapkan nilai-nilai dan norma-norma keagamaan, sehingga dapat mempengaruhi dan merubah tingkah laku masyarakat  menjadi lebih baik.

Dari pembahasan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwawanya dakwah dalam komunikasi antarbudaya ini diterapkan agar dapat merubah perilaku masyarakat awam menjadi lebih baik sesaui dengan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar.

Review Video Pemantik yang Berkaitan dengan Fungsi, Tujuan dan Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antarbudaya

A.  Channel Naurisa Biasini, Komunikasi Antar Busaya

Dalam konten ini menjelaskan mengenai komunikasi antar budaya yang lebih terfokuskan kepada fungsi sosial dan budaya dari sebuah bahasa dan nilai-nilai budaya dalam komunikasi antar budaya. Fungsi sosial dan budaya dari sebuah bahasa menurut sangmongpar, yakni  Communication exchange (Pertukaran komunikasi), penunjuk identitas dan sebagai pemersatu

Nilai-nilai budaya :

  1. High and low contect bahasa yang mereka gunakan bisa jadi memiliki arti yang berbeda
  2. High and low power distancetergantung bagaimana cara menggunakan bahasa untuk menghormati orang lain. High power distanceyang dipanggil jabatannya bukan namannya.  Low power distanceyang dipanggil namanya bukan jabatanny
  3. Individualism n collectivism, masyarakat individualis à ketika berbicara akan berkata “saya, saya, elo”. Masyarakat collectivis à ketika berbicara akan berkata “kita, kami”

Pengertian Komunikasi antar budaya :

  1.  Komunikasi antarbudaya adalah pernyataan diri antar pribadi yang paling efektif antara dua         orang saling berbeda latar belakang.
  2.  Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan,   tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budayanya.
  3.  Komunikasi antarbudaya adalah pengalihan informasi dari seseorang yang berkebudayaan   tertentu kepada seorang yang berkebudayaan lain.[1]

B.     Channel Official KPI UMY, Komunikasi Antar Budaya dan Agama ~ Culture Shock

     Konten ini menjelaskan mengenai pengertian culture shock, contoh kongkrit  culture shock, hal-hal yang biasa muncul dalam culture shock dan tahapan culture shock.

     Culture shock adalah pengalaman merasa disorientasi yang dialami seseorang yang berada dalam lingkungan atau budaya, cara hidup atau serangkaian perilaku yang tidak dikenalnya. Contohnya seperti orang jogja yang pindah ke luar kota kaget melihat budaya luar, karena di jogja ia terbiasa berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa yang halus. Disorientasi menurut KBBI adalah kehilangan daya untuk mengenal lingkungan , kesenjangan antara organisasi sosial dan sistem kebudayaan. Hal-hal yang biasa muncul dalam culture shock, yakni climate (perbedaan cuaca), food, bahasa, baju, value, etiket (perilaku).Tahapan culture shock, yakni

  1. Honeymon stage, pada tahapan ini rasanya  semuanya indah,
  2. Frustration stage, pada tahapan ini mulai frudtasi karena tidak sesuai harapan
  3. The Adjustment stage, pada tahapan ini mulai menyesuaikan dengan kondisi atau keadaan
  4. The acceptance stage, pada tahapan ini mulai bisa menerima

Ward menyatakan terdapat 3 dimensi dalam culture shock yang disebut dengan ABC efektifiitas budaya (cultur’s of culture shock) atau kejutaan budaya yaitu: (Affective) dimensi ini mencakup perasaan dan emosi yang mana mungkin menjadi positif atau negatif. Individu digambarkan mengalami kebingungan dan merasa kewalahan karena datang ke lingkungan yang tidak familiar.Individu merasa bingung, cemas, disorientasi, curiga, bahkan sedih karena datang ke lingkungan yang tidak familiar dengan ketidak pastian yang nyata. (Behavior) dimensi ini berhubungan dengan konsep pembelajaran budaya dan pengembangan keterampilan sosial. Individu mengalami kekeliruan aturan, kebiasaan dan asumsi-asumsi yang mengatur interaksi interpersonal mencakup komunikasi verbal dan nonverbal yang bervariasi di seluruh budaya. (Cognitive) kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang berhubungan dengan atau melibatkan kognisi, berdasar kepada pengetahuan dimensi ini merupakan hasil keadaan dari efektifitas dan (behaviorly) yang menghasilkan perubahan persepsi individu dalam identifikasi etnis dan nilai-nilai akibat kontak budaya.[2]

C.     Channel Afin Budiansori, Komunikasi Dakwah

     Konten ini menjelaskan mengenai pengertian komunikasi dakwah. Yang mana di dalamnya dijelaskan mengenai apa itu komunikasi, apa itu dakwah dan apa yang dimaksud dengan komunikasi dakwah.

     Komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang kelompok organisasi dan masyarakat, menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Dakwah dalam literatur islam komunikasi dipahami sebagai mengajak manusia kepada jalan Tuhan berdasarkan ayat al-quran surat an-Nahl ayat 125 yang artinya “ serulah manusia kepada jalan tuhanmudengan hikmah dan pelajaran yang baik dan beritahulah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalannya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yangmendapat petunjuk.” Jadi, yang dimaksud dengan komunikasi dakwah adalah segala bentuk komunikasi yang berisi pesan dan ajakan kepada jalan Tuhan atau ajakan berbuat baikdan meninggalkan segala keburukan.

     Komunikasi dakwah adalah komunikasi yang unsurunsurnya disesuaikan visi dan misi dakwah. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seseorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan. Jadi dari segi proses komunikasi dakwah hampir sama dengan komunikasi pada umumnya, tetapi yang membedakan hanya pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Adapun tujuan komunikasi pada umumnya yaitu mengharapkan partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampikan oleh pihak komunikator sehingga pesan-pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan, sedangkan tujuan komunikasi dakwah yaitu mengharapkan terjadinya perubahan atau pembentukan sikap atau tingkah laku sesuai dengan ajaran agama Islam.[3]

D.     Channel Isnazam Official, Ruang Lingkup Dakwah Antarbudaya

     Konten ini menjelaskan mengenai pengertian budaya, unsur-unsur budaya, dakwah antarbudaya, metode dakwah antarbudaya dan empat teori da’i berinteraksi dengan mad’unya.

     Budaya  berasal dari kata budi yang berarti akal dan daya yang berarti dorongan, jadi budaya adalah dorongan akal. Kebudayaan merupakan cita-cita manusia dan karya dari hasil belajar. Menurut terminologi agama Islam budaya menurut al-Ams adalah pengetahuan tentang norma atau nilai yang diketahui atau disepakati. Unsur-unsur budaya terdiri dari sistem peralatan hidup, sistem pencaharian, sistem kemayarakatan, bahasa dan komunikasi, sistem pengetahuan, sistem religi dan istem seni dan kesenian. Dakwah antar budaya merupakan dakwah yang mempertimbangkan keberagaman antara da’I dan mad’u dan keberragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antar budaya agar pesan dakwah itu tersampaikan dalam situasi damai. Metode dakwah antarbudaya, yakni :

  1. Istinbathi à dari al-quran dan hadits
  2. Iqtibasi à dari al-quran dan hadits dan meninjau teori pada disiplin ide lain
  3.  Istiq’roi à dengan menggunakan prosedur

Empat teori da’i berinteraksi dengan mad’u nya, yakni :

  1. Resistance theory, setiap aktivitas dakwah akan selalu dihadapkan dengan variabel da’i dan mad’u
  2. Cultuvation theory, hubungan antar sesame manusia dan berbagai komponen budaya menjadi sebagian hubungan dalam dakwah antarbudaya itu sendiri
  3. Reception theory, menerima spsenuhnya atau sebagian gagasan budaya yang lain dan yang baru yang harus menjadi budaya masyarakat setempat terlebih dahulu sebahai gagasan utama teori ini
  4. Complement theory, pembaharuan suatu budaya masyarakat pada era globalisasi budaya sekarang ini meypakan suatu kemajuan.

     Menurut Koentjaraningrat, kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayakan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan kata “budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” yang berarti “daya dan budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan “kebudayaan” yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam disiplin ilmu Antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu sama saja.[4]

E.     Channel Azmi Jaoda, Tujuan dan Fungsi Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya

Konten ini menjelaskan menganai tujuan dan fungsi komunikasi lintas budaya.

     Menurut luthvin tujuan dan fungsi komunikasi lintas budaya bersifat kognitif dan afektif, yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu  menerima daya da nisi dari komunikasi itu sendiri. Dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah. Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya adalah dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus  budaya atau tradisi lama menjadikan ajaran Islam diterima di tengah-tengah masyarakat dan menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh seua lapisan masyarakat. Fungsi dakwah komunikasi lintas budaya, yakni :

  1.  Mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam pada budaya masyarakat
  2. Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah
  3. Menjadi perantara dalam proses komunikasi antarbudaya
  4. Memawasi praktik komunikasi antarbudaya yang antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan

Peranan dakwah dalam komunikasi antarbudaya, yaitu :

  1. Komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya.
  2.  \Dakwah mengahadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan dan faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan terknologi, pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintahan, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar.
  3. Prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu soso-ekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.[5]

Semoga bermanfaat

 

Salam toleransi,

Noviyanti Wulan Sari 03/04/2021



[1] Alo Liliweri, Gatra Gatra Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), H. 9

[2] repostori.usu.ac.id>handlePDF CULTURE SHOCK DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA…

[3] Mubasyaroh, Dakwah dan Komunikasi (Studi Penggunaan Media Massa dalam Dakwah) “Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam”, Vol.4 No. 1 tahun 2016, diakses pada tanggal 3 April 2021 melalui E-book

[4] M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, (Bandung: Refika Aditama, 2001), H. 21-22

[5] Abd. Rahman P., Peranan Dakwah dan Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Plural “Jurnal Al-Munzir” Vol. 7 No. 1 tahun 2014, diakses pada tanggal 3 April 2021 melalui E-book

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR=UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Tayangan “Bikin Laper” Trans TV Diakui Berhasil Membuat Mayarakat Desa Tanjungan, Gresik Merasa Lapar Saat Menontonnya