Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Rasdan Bangsa.
Dakwah
merupakan suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku
dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha
mempengaruhi orang lain baik secara individu maupun secara kelompok agar supaya
timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta
pengalaman terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya
dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.[1] Komunikasi
menurut Tommy Suprapto, membagi pengertian komunikasi
berdasarkan tiga hal, yaitu pengertian secara etimologis, terminologis, dan
pradigmatis.
1.
Secara Etimologis, komunikasi
dipelajari berdasarkan asal-usul kata, yaitu komunikasi yang berasal dari
bahasa latin “Communicatio” yang bersumber dari kata commnis yang
berarti sama makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
2.
Secara Terminologis, komunikasi
berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang
lain.
3.
Secara Paradigmatis, komunikasi
berarti pola yang meliputi sejumlah komponen berkolerasi satu sama lain secara
fungsional untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya seperti ceramah, kuliah,
kotbah, diplomasi, dan sebagainya.
Pembahsan selanjutnya yakni mengenai ragam komunikasi. Ragam
komunikasi yang pertama, yakni komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya merupakan
proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang berbeda. Selain itu bentuk-bentuk
komunikasi dalam konteks ilmu lainnya, yaitu :
1.
Komunikasi
politik, proses komunikasi yang dilakukan dalam konteks perpolitikan
2.
Komunikasi
kesehatan, proses komunikasi yang terjadi dalam konteks paramedic
3.
Komunikasi
terapetik, proses komunikasi yang bukan hanya dalam konteks paramedic saja
namun ada pula yang disebut dengan tarapis nonformal
4.
Komunikasi
dakwah, proses komunikasi dalam usaha menyampaikan pesan atau nilai-nilai Islam
kepada umat manusia
5.
Komunikasi
krisis dan bencana, proses komunikasi dalam menghadapi dan menanggulangi krisis
dan bencana
6.
Komunikasi
transcendental, proses komunikasi yang terjadi antara manusia (hamba) dengan
Tuhannya. Alur komunikasinya satu arah seperti sembayang, sholat dan berdo’a.
komunikasi ini biasa dikenal sebagai komunikasi untuk meminta dan memohon.
7.
Komunikasi
spiritual, proses komunikasi yang melibatkan unsur spiritual (rasa). Memiliki
alur dua arah.
8.
Komunikasi
supranatural, komunikasi yang tidak perlu dipelajari cukup diketahui saja
karena merupakan komunikasi yang lebih ke unsur negative. Seperti seorang dukun
yang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.
Maka dari itu berkomunikasilah yang positif sejak dari dalam
pikiran hingga ucapan sehingga energi positif kita akan menyebar kealam semesta
menjadi positif juga.[2]
Pembahasan selanjutnya yakni menganai keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman
dalam masyarakat Indonesia meliputi suku, agama, ras dan antargolongan, akan
tetapi dengan adanya keberagaman inilah yang dapat menjadikan masyarakat Indonesia
mengerti dan memahami pentingnya
toleransi antar suku, agama, ras dan antargolongan masyarakat Indonesia.
1.
keberagaman dalam masyarakat Indonesia
a.
Faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia meliputi, letak
strategis wilayah Indonesia, kondisi Negara kepulauan, perbedaan kondisi alam,
keadaan transportasi dan komunikasi, penerimaan masyarakat terhadap perubahan[3]
b.
Keberagaman suku bangsa dan budaya
c.
Keberagaman agama dan kepercayaan
d.
Keberagaman ras
2.
Arti penting memahami keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal
Ika
Keberagaman
masyarakat Indonesia memiliki arti penting sebagai berikut :
a.
Keberaganman
tersebut akan menjadi modal sosial yang besar untuk membangun bangsa dan
negara.
b.
Sebaliknya,
bila kebergaman tersebut tidak dapat dikelola dengan baik dan tidak dalam
bingkai Bhineka Tunggal Ika,maka dapat menjadi penyebap timbulnya konflik yang
membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.[4]
3.
Perilaku toleransi terhadap keberagaman suku, agama, ras dan
antargolongan
Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat
diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati
keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi terhadap keberagaman
tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap sabar membiarkan orang
berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat
berbeda.[5]
Dalam channel youtube nya Gery Ayatullah E. mengatakan
bahwasanya “Tolarance is the capability of living with something (including
other's attitude and situation) that you don't like. You don't like it because
it is different of what you are accustomed to, not in accordance with values
you hold or tradition you have been raised in.
Toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu
(termasuk sikap dan situasi orang lain) yang tidak Anda sukai. Anda tidak
menyukainya karena ini berbeda dengan apa yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai
dengan nilai yang Anda pegang atau tradisi tempat Anda dibesarkan.[6]
Adapun sikap toleransi yang dapat memperkuat persatuan bangsa, yakni dengan
menghormati dan menghargai suku, ras, agama, budaya dan adat istiadat yang
berbeda, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam berhubungan dan
berkomunikasi dengan masyarakat lain dan bergaul dan berteman dengan tidak membeda-bedakan
suku bangsa lain.[7]
Indonesia memiliki beragam ras, etnik dan
agama, Masyarakat menjungjung tinggi nilai–nilai persatuan. Contohnya seperti
moderasi beragama, indonesia dengan acuan geografi dan kemajukan manusia di
bumi pertiwi dengan berbagai perbedaan dengan dilandasi toleransi menciptakan
harmoni yang sepadu, sejalan, seirama dan ber-iringan. Dengan adanya keragaman
indonesia mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lain. Dalam konteks agama islam moderasi beragama berarti mengajarkan agama bukan
hanya untuk membentuk pribadi, individu yang sholeh, tetapi sebagai landasan
atau instrumen untuk menghargai agama dan umat beragama lain. Dalam jaman
modern saat ini kita perlu memahami sikap moderasi beragama, sebab jika kita
memahami moderasi beragama ini kita akan menjadi volume budaya kampung bagi
kita untuk menghadapi zaman sekarang yang sudah maraknya intoleransi dan
fanatisme yang berlebihan yang bisa mengancam kerukunan umat beragama di
indonesia. Mentri agama Luqman Hakim Syaifudin mengatakan,”Silahkan mengamalkan ajaran agama masing-masing, tapi
ingat jangan menyeragamkannya”. Agama butuh wilayah yang damai dan kehidupan
yang damai butuh nilai spiritualis agama. Ada 3 poin penting dalam mewujudkan
moderasi beragama:
1. Kaffah : pengenalan dan pengamalan ajaran islam secara baik, benar dan menyeluruh
2. Ta’awun dan Tasamuh : toleransi dan saling tolong menolong dan menjaga hubungan
baik kepada sesama.
3. Adil : Mengedepankan keadilan serta musyawarah dalam menentukan kebijakan serta
memecahkan masalah
[1] H.
M. Arifin, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 6
[2] Channel
youtube Betty Tresnawaty, Ragam Bentuk Komunikasi, 2020
[3] https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/keberagaman-suku-agama-ras-dan-antargolongan-dalam-bingkai-bhineka-tunggal-ika/
[4] Ibid
[5]
Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antar
Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021
[6]
Channel youtube Gery Ayatullah E. Religious tolerance, 2 Maret 2021
[7]
Resty Dyah Safitri, Sikap Toleransi terhadap Keberagaman Bangsa Indonesia. 2019

Komentar
Posting Komentar