Dakwah Multikultural Sebagai Perisai Perdamaian


Pada artikel ini, saya ingin berbagi dakwah multikultural sebagai perisai perdamaian. Tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat awam bahwasanya agama Islam adalah agama yang haq, agama yang benar, agama yang mengajarkan umatnya untuk bersikap toleransi dan saling menghargai perbedaan serta agama yang cinta akan perdamaian.

Salah satu problem dakwah yang cukup penting adalah manyangkut perbedaan paham yang saling membuat hubungan sosial antar pemeluk agama terganggu. Solusi yang ditawarkan oleh agama Islam sendiri adalah dengan dakwah multikultural. Dakwah multikultral merupakan metode dakwah dengan menghargai perbedaan dan keberagaman  yang dilakukan dengan rasa bijaksana, toleransi dan saling menghargai.

Contoh dakwah multikultural pada masa Rasulullah SAW, yakni kisah Rasulullah SAW dizalimi nenek tua Yahudi. Rasulullah SAW adalah orang yang rendah hati dan pemaaf, tiada terhitung banyaknya cacian, hinaan yang diterima beliau dari kaum  kafir Quraisy, namun beliau tetap berbuat baik terhadap orang-orang yang menghinanya. Salah seorang yang sangat membenci Rasulullah SAW adalah nenek tua Yahudi. Jika Rasulullah SAW berangkat ke masjid selau melewati rumah si nenek Yahudi tersebut, kebetulan ketika Rasulullah SAW lewat si nenek Yahudi ini sedang menyapu halaman rumahnya, buru-buru  si nenek ini mengumpulkan sampah  tersebut  kemudian  ketika Rasulullah SAW lewat didepan jendela dilemparlah sampah tersebut. Rasulullah SAW terkejut akan tetapi beliau tidak marah, begitu tahu siapa yang melemparnya maka Rasulullah SAW mengangguk sambil tersenyum,“Assalamualaikum” kata Rasulullah SAW kemudian nenek itu malah melotot kepada Rasulullah SAW  dan berkata “Enyah kau!”. Kemudian keesokan harinya Rasulullah SAW lewat lagi di depan rumah si nenek, dan ternyata si nenek sudah bersiap-siap lagi ingin melempari Rasulullah SAW, bahkan kali ini lebih parah karena ia akan melemparnya dengan kotoran dan juga sambil meludahi Rasulullah SAW lalu bagaimana sikap Rasulullah SAW? Rasulullah SAW hanya tersenyum dan berusaha membersihkan pakaiannya, si nenek ini menjadi semakin marah karena Rasulullah SAW tidak terpengaruh. Begitu seterusnya, beberapa hari Rasulullah SAW melewati rumah si nenek selalu diperlakukan demikian dan Rasulullah SAW selalu tersenyum. Suatu hari Rasulullah SAW lewat lagi di depan rumah si nenek, akan tetapi kali ini si nenek tidak kelihatan, padahal Rasulullah SAW sudah bersiap  menyapanya. Kemudian Rasulullah SAW mendatangi tetangga si nenek dan bertanya “Apakah engkau tahu apa yang terjadi dengan si nenek sebelah rumah ini, karena aku tidak melihatnya hari ini.” kata Rasulullah SAW kemudian si tetangga tadi menjawab “Mengapa engkau begitu peduli kepadanya wahai Rasulullah SAW, padahal selama ini ia telah menghinamu.” Rasulullah SAW hanya tersenyum mengdengar perkataan tetangga si nenek tadi. Lalu si tetangga ini menjelaskan bahwa si nenek ini tinggal hanya sebatang kara dan kini sedang sakit keras. Kemudian Rasulullah SAW menghampiri si nenek ini ke rumahnya. Rasulullah SAW membantu memasak di rumah si nenek, membantu mengambilkan air sumur, membersihkan debu-debu yang ada di rumah si nenek. Si nenek ini heran ada orang yang membantunya, ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, lalu setelah mengetahui orang tersebut adalah Rasulullah SAW nenek itu pun meneteskan air mata, karena selama ini tidak ada yang mau merawatnya. Orang yang selama ini ia hina, justru malah membalasnya dengan kasih sayang. Singkat cerita nenek ini meminta maaf kepada Rasulullah SAW.  Dari kisah tersebut mengajarkan kita tentang bagaimana menyampaikan dakwah dengan ramah, damai dan saling menhargai perbedaan.

Selain itu terdapat contoh lain dakwah multikultural yang terdapat di Negara kita sendiri, yakni dakwah KH. Abdurrahman Wachid (Gus Dur) yang mendakwahkan Islam dengan sikap yang ramah, toleransi, damai dan menghargai perbedaan.

Dengan demikian, tanamkan di hati kita, tanamkan dalam diri kita, bahwa ketika kita menghadapi keberagaman ini, maka kita harus bersikap bijak, toleran  implusif dan terbuka terhadap keberagaman itu sehingga kita semua  senantiasa menyikapinya dan hidup secara damai.

Semoga bermanfaat

 

Salam toleransi

Noviyanti Wulan Sari 15/03/2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR=UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Tayangan “Bikin Laper” Trans TV Diakui Berhasil Membuat Mayarakat Desa Tanjungan, Gresik Merasa Lapar Saat Menontonnya